KERUKUNAN KELUARGA KAWANUA

WALE NE TOU KAWANUA

Prof. Rudy C Tarumingkeng, PhD: Keminahasaan Tou Kawanua

A. Keminahasaan Tou Kawanua (TM)

Kriteria Keminahasaan yang saya ketahui dicirikan oleh beberapa sifat:

Kawanua-merupakan sifat kohesif (dekat, lengket) seseorang dengan orang sekampungnya. Artinya, suatu sifat solidaritas dengan orang se”negeri”nya. Dari sini muncul istilah kawanua(Ka= se; wanua = negeri, desa, komunitas). Pengertian negeribagi orang Minahasa mirip dengan nagari orang Minangkabau. Pengertian “kawanua” kemudian melebar lebih holistik ke se-Minahasa, sehingga yang dimaksud dengan negeri menjadi Minahasa. Dengan demikian istilah Kawanua sekarang menjadi lebih lebar (extended), berlaku bagi orang Minahasa di manapun berada dan artinya menjadi “sama-sama orang Minahasa”.

Minaesa. Minahasa berasal dari kata Mina-Esa yang berarti menjadi satu (united). Orang Belanda menyebut Minahasa karena lafal barat sulit menyebut MinaEsa. Dalam banyak peristiwasejarah, orang Minahasa menunjukkan sifat Minaesa ini. Misalnya pada perang melawan Spanyol, perang Mongondouw dan perang Moraya/Tondano dsb. orang Minahasa menampilkan sifat solidaritas, persatuan dan kesatuan mereka dalam berjuang. Berbagai ucapan implikatif keminahasaan yang muncul adalah misalnya: masawang-sawangan (saling bantu), meleos-leosan(saling berbaikan satu dengan lainnya), matombol-an(saling menunjang), malinga-lingaan(saling mendengarkan nasehat), maketer-keteran(saling memberikan tenaga/sinergisme dalam bekerja) dan mawongke-wongkean(saling membangunkan maksudnya saling mengingatkan agar siaga).

Si Tou Timou Tumou Tou (ST4). Semboyan orang Minahasa ini merupakan Minahasa wisdomphrasesyang sudah ada sejak dulu, dan kemungkinan digalikembali oleh Dr GSSJ Ratulangi. ST4 secara harfiah berarti “manusia hidup bertugas memanusiakan manusia lain”. Saya mengartikan ungkapan ST4 sebagai: setiap manusia kawanua wajib mendidik generasi berikutnya menjadi manusia berguna (berbakti bagi kemanusiaan, bagi negara dan bagi Tuhan). Saya tidak menemukan literatur (tulisan) tentang siapa yang pertama kali mengucapkan ST4 ini, tapi yang saya masih ingat waktu saya berusia 10 tahun, sekitar tahun 1946 ayah saya, seorang guru SD di Kakas mengucapkan dan menjelaskan kepada saya arti ST4 ini. Beberapa tulisan yang menyatakan pemikiran dan interpretasi saya tentang ST4 bisa dibaca di sini: www.tumoutou.com

Peran menonjol Perempuan dalam semua aspek.Dalam semua aspek kehidupan peran perempuan TM menonjol. Dahulu kala ada mitos nenek moyang TM, Lumimu’ut. Juga kepahlawanan Pingkan (membantu suaminya Matindas dalam melawan perompak Mangindano/Mindanao, Filipina) dan kewiraan wewene Toulour dalam Perang Tondano. Sejak abad lampau kita mengenal inteligensia TM, Dr Tomas, Dr Gerungan, Maria Walanda Maramis, dll. Di semua kalangan perempuan TM berperan.

B. Keindonesiaan Tou Kawanua.

Paparan berikut belum mencakup keseluruhan bahasan tentang Keindonesiaan TM. Di sini saya menganalisis TM dari aspek kiprah, kedudukan sosial, kepercayaan pemerintah/ masyarakat terhadap TM untuk jabatan tinggi Kenegaraan posisi kemasyarakatan lainnya.

1. Era sebelum tahun 1900 atau abad 18 dan sebelumnya. Pada era ini agak sulit kita menentukan apakah Tou Kawanua (TM)telah memiliki wawasan Nusantara atau Keindonesiaan, kecuali mengikuti jejak Belanda (penjajah) dalam setiap langkah “perjuangannya” yaitu misalnya sebagai prajurit “KNIL” yang berjuang bersama Belanda, kapala walak, majoor(jabatan tinggi sipil), hukum besar, dst. , di era di mana TM menunjukkan sifat inteligensia, kepemimpinan, kewiraan dan keberaniannya.

2. Era perjuangan (Sukarno) sebelum kemerdekaan-awal abad ke 20 merupakan jaman perjuangan di mana platform perjuangan yaitu “Indonesia Merdeka” bebas dari penjajahan telah teridentifikasi secara jelas dan tegas. Keindonesiaan Tou Kawanua, sangat jelas terlihat dari peran para pejuang kemerdekaan era Bung Karno seperti Sam Ratulangi, Arnold Mononutu, Babe’ Palar, Mr. Maramis, Dr Tumbelaka dan masih banyak lagi.

3. Era Presiden Sukarno (setelah kemerdekaan).Era presiden Soekarno menunjukkan bahwa TM adalah unggul dalam pemerintahan (Gouvernement) dan politik. Beberapa TM diangkat sebagai menteri (pejabat negara), seperti Maengkom, Mononutu, Maramis, Palar, Ir Laoh, Ds Rumambi dll.

4. Era setelah Bung Karno, orde baru, orde reformasi dst. Pada orde ini TM tampak menurun kinerjanya dalam kedudukan sebagai pejabat negara (menteri). Pada era ini antara lain Theo Sambuaga (era Suharto, walau hanya waktu yang singkat) dan AE Mangindaan (era SBY) dan lainnya. Di bawah pejabat negara (menteri) cukup banyak yang diberi kepercayaan untuk menjabat eselon satu seperti Gubernur, Panglima Kodam atau sejajar dan Rektor Perguruan Tinggi Negeri. Pada era ini terjadi penurunandalam posisi/kiprah TM dalam aspek pemerintahan khususnya pejabat negara dan sejenisnya.

Mengapa demikian? Analisis sepintas adalah

1. Masa dahulu terutama masa (B.1) dan (B.2) TM relatif lebih maju dalam pendidikan, karena kepercayaan Belanda kepada TM. TM boleh berekolah di “sekolah Raja” (mislnya MULO Tondano), yang berhasil boleh studi di Belanda –berakibat daerah Minahasa relatif lebih maju dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia, termasuk pulau Jawa.

2. Menurut pendapat saya, masuknya Injil di tanah Minahasa pada tahun 1700-an juga turut berperan sehingga TM lebih unggul dalam literasi karena di luar sekolah, Alkitab menjadi bacaan umum di kalangan masyarakat yang telah menerima Injil.

Traits apakah yang dapat ditonjolkan dari TM (berdasarkan performance masa lalu)? 1.TM cenderung progresif. Filsafat ST4 mungkin merupakan motivator TM untuk berpikir progresif dan antisipatif. 2.TM memiliki keberanian luar biasa (exteme bravery) -(Wolter Mongisidi, Daan Mogot, Kodongan dll.) 3.TM memiliki kemampuan dalam penyesuaian terhadap perubahan2 lingkungan yang berlangsung (Belanda, Republik, Permesta dst.). Kesimpulan: Berdasarkan analisis ini saya menganjurkan agar TM kini mengejar kembali performance dan potensi seperti masa lampau, bukan hanya membanggakannya. Masa depan yang kini sedang kita mulai memiliki tantangan karena disrupsi teknologi dan sosial yang berat maka diperlukan lompatan (leap), terobosan (breakthrough) oleh semua lapisan masyarakat, khususnya generasi muda (milenial / generasi Y dan Z). Dalam menghadapi era digital, TM perlu mengubah mindset. Di dunia tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan (Heraclitus, 500 SK). Keunggulan para pendahulu kita sama sama kita banggakan. Tapi kita kini hidup di era yang lain. Cara dan kiat mereka mungkin tidak cocok lagi bagi kita untuk mengantisipasi perubahan teknologi yang demikian cepat berlangsung. Tulisan berikut merupakan pemikiran saya bagi para pendidik dan mereka yang berperan dalam pembangunan, termasuk bagi TM -dalam menghadapi era digital sekarang: http://www.tumoutou.com/PIKG/rct-Digital.

Technology.and.Education.in.the.era.of.Industry4.pdf

Prof. Rudy C Tarumingkeng, PhD 21 Desember, 2018